Header Ads


Aspalku Banyak, Jalanku Rusak

 


IRONIS. Dari 122,6 KM jalan provinsi yang terbentang di Buton Utara (Butur), dalam kondisi baik hanya sepanjang 42 KM. Selebihnya rusak ringan 2 KM dan rusak berat 78,6 KM.



Oleh: Abu Syah Jihad FS*) 



ARTINYA jalan provinsi dalam kondisi baik hanya 34 persen. Dengan kata lain jalan rusak nyaris 70 persen.  


Demikian sepenggal persoalan yang dihadapi salah satu daerah penghasil aspal di Sultra, Buton Utara. Secara geografis, posisinya dengan Buton, lokasi tambang aspal hanya selemparan batu.


Momentum kedatangan Presiden RI, Joko Widodo dalam Munas VII Kamar Dagang dan Industri (Kadin) yang dipusatkan di Kota Kendari, Rabu (30/06/2021) mestinya fakta tersebut dibuka. Apalagi ke depan, Aspal Buton akan dijadikan material utama dalam pembuatan jalan menggantikan aspal minyak.     


Sehingga diharapkan persoalan tersebut bisa dipecahkan. Jangan terulang terus. Ibarat penyakit kronis yang tak pernah sembuh. 

  

Pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan jalan kabupaten? Sampai tahun 2020 kondisi jalan yang masih baik tercatat sepanjang 380,213 KM atau 60,08 persen. Sedangkan kondisi rusak 252,618 KM, dari total panjang jalan kabupaten 632,831 KM.


Demikian data disampaikan Bupati Ridwan Zakariah ketika memberikan sambutan di Musyawarah Perencanaan Pembagunan (Musrenbang) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Butur Tahun 2021-2026, di Aula Bappeda setempat, Rabu (23/6/2021).


Dari data di atas, pemandangan kontras begitu nyata terlihat. Jalan propinsi yang rusak nyaris 70 persen, sementara jalan kabupaten yang baik sekitar 60 persen.


Jalan kabupaten lebih banyak yang baik. Sebaliknya jalan propinsi lebih banyak rusak. 


Data tersebut membuat saya mengurut dada. Ridwan Zakariah memimpin diperiode keduanya baru seumur jagung, namun persoalan yang dihadapinya sangat berat.


Bisa dibayangkan, jalan ibarat urat nadi bagi suatu daerah dalam kondisi rusak. Jika urat nadi tidak bisa mengalirkan darah secara baik, tentu manusia akan sakit.


Sama halnya dengan pembangunan di daerah. Bila jalannya rusak, maka ekonominya sakit. 


Bagaimana mungkin mobilitas manusia dan barang berjalan lancar bila jalan rusak? Tentu akan menimbulkan kondisi yang inefisien. Ekonomi high cost alias ekonomi biaya tinggi.


Ditambah lagi dengan hantaman pandemi Covid-19, maka bisa dipastikan kondisi ekonomi Butur berdarah-darah. Bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi Butur tahun 2020 mengalami penurunan tajam hingga di angka 0,99. Bandingkan setahun sebelumnya, pada 2019 tumbuh di angka 5,68 persen.


Maka itu, persoalan Butur tidak bisa hanya diselesaikan Pemkab. Pemprov juga harus tanggungjawab. Apalagi kerusakan paling parah adalah jalan Propinsi.


Anomali berikutnya, Sultra adalah penghasil aspal terbesar di dunia. Namun mengapa masih ada daerahnya yang mengalami persoalan jalan? 


Pun persoalannya di Buton Utara. Daerah yang sangat dekat dengan tambang aspal, Buton.


Apa kata dunia? 


Demikian fakta di Butur. Bagaimana dengan fakta lain di Indonesia? 


Maka itu, saatnya Islam dijadikan solusi untuk menyelesaikan masalah. Potensi besar yang kita miliki, tidak hanya akan menyelesaikan persoalan jalan. Tapi juga menjawab defisit anggaran negara.


Karena itu, negara harus hadir menyelesaikan masalah. Fungsi negara adalah melakukan riayah. Melayani umat. 


Segudang potensi aspal yang kita miliki, kenapa tidak bisa membawa berkah bagi Indonesia. Berkah bagi umat. Justru sebaliknya, menimbulkan bencana. 


Tentu ada yang salah. Waktunya mengganti sistem buatan manusia dengan buatan Allah yang bersumber dari Al-Qur'an, sunnah, ijma, dan qiyas.


Tengok bagaimana Khalifah Utsman bin Affan Ra yang mengirimkan beberapa petugas ke daerah-daerah untuk mengawasi dan mengetahui situasi dan kondisinya, serta berbagai kezaliman yang mungkin di derita rakyatnya. Para pengawas tersebut pun mengirimkan beberapa laporan tentang situasi dan kondisi para pemimpin dan rakyatnya.


Khalifah Utsman mengirimkan Ammar bin Yasir ke Mesir, Muhammad bin Maslamah ke Kufah, Usamah bin Zaid ke Bashrah, Abdullah bin Umar ke Syam, dan ditambah pengiriman para pengawas ke berbagai daerah lainnya.


Dengan begitu, fakta empiris bisa diketahui secara tepat. Demikian pula solusi yang diberikan.           


Pendek kata, menyelesaikan masalah secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.


Lihat bagaimana Khalifah Umar bin Khaththab ra yang khawatir seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak. "Aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala, mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?" ujarnya.


Jika mental pemimpin yang diberi amanah meriayah umat seperti mereka, apakah masih ada jalan yang rusak?(**)


*)Khadim Majelis Nafsiyah Islamiyah (MNI) Kepulauan Buton (Kepton)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.