Header Ads


Seruan 212

HINGGA kini darah masih tumpah di Gaza. Setelah gencatan senjata antara Hamas dan penjajah Yahudi dicabut, perang kembali pecah.


Catatan: Abu Jihad FS*) 


Kekejaman penjajah Yahudi semakin nyata. Mereka tidak bisa lagi menyembunyikan wajah aslinya. Merekalah teroris sebenarnya.  

Media arus utama tidak bisa membendung arus media sosial (Medsos) yang membuka borok penjajah Yahudi. CNN, CNBC, Fox News, Reuters jadi bulan-bulanan netizen.

Terbaru, walaupun Elon Musk, pemilik platform Medsos X (dulu Twitter) bertemu Netanyahu diwilayah pendudukan Yahudi, tidak bisa menggoyahkan sikapnya. 

Musk tidak memihak kepada penjajah Yahudi. Walaupun dia harus menghadapi kenyataan, sejumlah merek ternama yang beriklan di-X "angkat kaki". Misalnya Disney, Apple, Paramount, dan IBM.

Ia lebih memilih kehilangan pengiklan yang berpotensi memberikan penghasilan triliunan rupiah. Musk tak kuasa melawan opini publik. 

Nyata terlihat penjajah Yahudi secara opini kalah telak. Datanya bisa dilihat dari hastag yang membela Palestina miliaran, sedangkan penjajah Yahudi jutaan. 

Angkanya sangat jomplang. Baikan langit dan Bumi.

Gaza seolah menjelma, bukan hanya milik umat Islam. Gaza kini menjadi kepunyaan dunia.

Perlawanan terhadap penjajah Yahudi tidak lagi dilakukan secara komunal. Levelnya sudah naik menjadi sentimen global.

Ya, Gaza membuka mata dunia. Puluhan ribu nyawa umat Islam jadi korban kekejaman penjajah Yahudi. Puluhan ribu rumah rata dengan tanah. Rumah sakit, masjid, pasar, tak luput dari sasaran mereka.

Hasilnya, warga dunia kini menjadikan penjajah Yahudi sebagai musuh bersama. Merekalah teroris sesungguhnya.        

Muslim Gaza secara elok telah memberikan gambaran bagaimana wajah Islam. Mereka memperlihatkan teladan Islam rahmatan lil-'alamin.  

Pemandangan itulah yang membuat opini global mampu merubah sikap penguasa di negara mereka masing-masing. Penguasanya tak kuasa menghadapi tekanan rakyatnya.

Terbukti, di AS, Inggris, Prancis, dan negara lain yang menjadi sekutu penjajah Israel, penguasanya mengalami dilema. Membantu penjajah Yahudi artinya menentang opini publik.

Bahkan ada salah seorang warga AS yang menyatakan lebih memilih sandal jepit dibandingkan Joe Biden atau Donald Trump. 

Melihat kenyatan ini, mestinya sentimen kemanusiaan yang menguat dipihak muslim harus dinaikkan tingkatannya. Tidak hanya berhenti pada aspek kemanusiaan yang bersifat pragmatis. Harus dinaikkan ke level ideologis.

Apakah rela melihat Gaza berjuang sendiri? Apakah tega melihat nyawa saudara kita disana terus ditumpahkan oleh penjajah Yahudi? Tentu tidak.

Maka itu, butuh persatuan umat untuk menolong muslim Gaza. Umat Islam harus melepaskan ikatan asobiyah atau nasionalisme. Inilah paham yang menjadi penghalang bagi muslim dari negeri lain untuk membantu saudaranya di Gaza.

Bila "borgol" asobiyah dilepaskan, niscaya kesatuan umat dapat diwujudkan dengan penerapan Islam secara kaffah. Muaranya akan terbentuk khilafah.

Selanjutnya khilafah yang akan menghapus penjajah Yahudi. Bahkan bila ada negara adidaya yang menolong entitas Yahudi, Khilafah siap menghadapi.

Alhasil, melalui momentum Sabtu (2/12), dari Negeri Khalifatul Khamis, Seruan 212: Pupus Asobiyah, Hapus Yahudi Penjajah.(**)  


*)Khadim Majelis Nafsiyah Islamiyah (MNI) Negeri Khalifatul Khamis

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.