Kota Suci yang Terlupakan
Oleh: Cahaya Chems (Pegiat Literasi)
Dunia muslim menyambut kelahiran Nabi saw. penuh euforia, spirit dan semangat akan kecintaan kepada Baginda. Semua muslim bersuka cita. Namun, disisi lain Nabi Muhammad, yang dicintai umatnya mungkin saja akan menangis jika menyaksikan tempat Isra-Mi’rajnya masih dalam keadaan terjajah di bawah hegemoni Zionis Israel.
Hingga hari ini kebengisan, kengerian, kesewenangan, dan arogansi masih membara di bumi suci Baitul Maqdis. Yah, dunia masih dalam kebungkamannya. Menyaksikan waktu demi waktu darah-darah anak-anak Palestina tak berdosa terus mengucur deras. Tanpa ampun Zionis membabi buta. Tak peduli kecaman ompong tak bermakna dari publik dunia.
Lebih ironis, kini Zionis sengaja menarget media dan medis. Dalam sekejap lima jurnalis internasional tewas dalam bidikan rudal bom serangan ganda Israel. Mereka yang tewas diantaranya Mariam Dagga jurnalis lepas Associated Press (AP), Husam al-Masri juru kamera Reuters, Mohammad Salama yang bekerja untuk Al Jazeera, jurnalis Ahmed Abu Azis serta fotografer Moaz Abu Taha yang bekerja untuk Middle East Eye. Rumah Sakit Nasser Khan Yunis di Jalur Selatan Gaza pun turut menjadi sasaran, sengaja dilumpuhkan agar tak ada lagi yang bisa memberikan pertolongan. Kejahatan Zionis telah melampaui batas (BBC News Indonesia, 26/08/2025).
Yah, aktivitas Zionis dalam melumpuhkan media dan para jurnalis menambah deretan panjang kebengisan mereka terhadap genosida di Gaza. Bahkan menurut catatan Committee to Protect Journalists (CPJ), salah satu badan yang mengedepankan kebebasan pers, Gaza adalah tempat paling mematikan bagi para jurnalis. Lebih lanjut menurutnya dalam dua dekade terakhir jumlah korban kematian jurnalis telah melampaui jumlah korban tewas para jurnalis yang tertulis secara global dalam tiga tahun terakhir.
Artinya tidak ada tempat yang aman di Gaza. Jurnalis yang wajib dilindungi dalam undang-undang perang nyatanya turut menjadi korban dari kebiadaban Zionis. Apalagi masyarakat sipil, tetap menjadi target operasi kematian. Ketika jurnalis di Gaza memanggil jurnalis-jurnalis internasional lainnya. Itu artinya pertanda mereka lemah tak berdaya membungkam kesewenangan zionis dengan media yang mereka punya. Juga menunjukkan kegentingan yang krusial. Tak bisa berbuat banyak ketika usaha mereka dipadamkan menyampaikan kebenaran di mata dunia. Padahal peran pers dan jurnalis amat vital demi tersampaikannya berita. Jika terus dibungkam niscaya kebenaran akan lenyap dan berhenti dari bumi suci tersebut. Imbasnya Palestina akan terlupakan dan diabaikan
Korban Terus Berjatuhan
Sejauh ini korban tewas di Gaza terus bertambah hingga menyentuh 64.000 jiwa sejak Oktober 2023. Namun jumlah kaum muslim yang hampir dua miliar tak mampu untuk membebaskan mereka kecuali sekedar bantuan logistik, pangan, obat-obatan yang tak memberi dampak apapun. Kebengisan Zionis tak mampu dihalau jika hanya seruan dan kecaman tanpa tindakan nyata. Mereka terus menumpahkan darah. Sementara negeri Arab yang merupakan saudara mereka terdekat malah sibuk mengirim kain kafan ketimbang mengirimkan militernya.
Pun lebih memalukan para pemimpin muslim justru ikut andil dalam tragedi kemanusiaan yang melanda masyarakat Palestina, tanpa mengirimkan bantuan militer. Padahal mereka memiliki segalanya. Militer, persenjataan, dan kekuatan menekan. Alih-alih melakukan itu semua, mereka hanya sibuk mengecam dengan retorika kosong tanpa makna. Sementara dibalik itu, mereka sibuk menjalin diplomasi dan kerjasama dengan Israel yang turut membuat luka Palestina semakin menganga perih. Pun tak sedikit petinggi-petinggi muslim justru memilih damai dan mencari aman. Lalu membiarkan Palestina berjuang sendiri sementara dunia menyaksikan. Bumi suci itu terlupakan ditengah-tengah keramaian dunia. Seolah-olah jika yang menjadi korban rakyat Palestina, nyawa seakan tak berharga. Dunia merasa biasa.
Naas seperti biasa reaksi dunia internasional pun tak lebih sekedar kecaman lisan tak bermakna. Hanya berhenti pada ucapan retoris rasa prihatin tanpa aksi nyata. Lembaga PBB yang bertindak sebagai dewan keamanan dunia, nyatanya tak berani memberikan sanksi dan menangkap apalagi upaya menghentikan penjajahan. Disisi lain zionis merasa jumawa sebab terus mendapatkan dukungan AS dan sekutunya. Sementara dunia mesti tunduk untuk menerima dan menormalisasi tindakan-tindakan keji yang dilakukan Zionis sebagai tindakan biasa bukan pelanggaran.
Inilah persoalan yang masih menimpa umat. Jika umat terus seperti ini, niscaya hegemoni dan tindakan genosida tak akan pernah usai. Zionis akan terus menjarah dan merampas tanah kaum muslimin.
Gaza Butuh Solusi Hakiki
Karena itu, berhentilah hanya pada upaya bantuan kemanusiaan dan respon parsial. Itu penting, tapi bukan solusi hakiki. Sebab Gaza tetap terluka. Gaza butuh aksi nyata dan tindakan strategis. Bukan simpati sesaat ketika korban bertambah banyak. Namun langkah nyata terarah dan tidak parsial. Dimana umat harus menyadari bahwa tanah Palestina adalah tanah kaum muslimin yang telah dibebaskan oleh Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al-ayyubi dengan darah dan perjuangan. Tanah itu, kini telah dirampok oleh Zionis Israel dengan menjajah dan mengusir warga asli. Karena itu, tanah yang dirampas itu harus dibebaskan kembali. Pembebasan dapat dilakukan ketika umat memiliki kesadaran ini. Bukan hanya respon emosional. Umat mesti memiliki kesatuan pemikiran untuk menyatukan barisan, satu suara dalam memandang persoalan Palestina.
Dengan begitu, ketika opini terbentuk di tengah-tengah umat bahwa kewajiban jihad adalah solusi nyata harus terus digaungkan. Insyaallah bumi Al-aqsa dapat dibebaskan dan kembali dalam pangkuan Islam.
Khatimah
Agar bumi suci tak terlupakan lagi. Kini saatnya menyatukan pemikiran, dan sadar akan masalah. Kita tak boleh berhenti dan hanya diam menjadi penonton. Tetapi menjadi pionir sebagai moncong-moncong persenjataan untuk terus bersuara memberi edukasi dan kesadaran di tengah-tengah umat bahwa solusi hakiki penjajahan Palestina adalah tidak lain membutuhkan jihad. Inilah solusi syar’i untuk mengakhiri penjajahan. Sebab sejarah telah mengajarkan bahwa kaum muslimin tidaklah membebaskan suatu negeri kecuali dengan penyadaran (dakwah) dan jihad fisabilillah. Dan itu terjadi ketika mereka memiliki perisai (seorang pemimpin) yang memiliki tanggung jawab terhadap pengurusan umatnya. Wallahu a'lam.


Post a Comment