Header Ads


Kebrutalan Zionis Tak Terbendung, Umat Harus Terus Menggaungkan Solusi Hakiki

Oleh: Nurma*)


IndonesiaNeo, OPINI - Israel telah melakukan serangan udara terhadap Rumah Sakit Nasser di Gaza pada Senin (25/8/2025). Dalam peristiwa ini, sedikitnya 15 orang tewas, termasuk empat jurnalis. Salah satu korban adalah Hussam al-Masri, juru kamera sekaligus kontraktor Reuters, yang tewas dalam serangan pertama. Fotografer Hatem Khaled, juga dari Reuters, mengalami luka dalam serangan kedua.

Menurut saksi mata, serangan kedua terjadi setelah tim penyelamat, jurnalis, dan warga mendatangi lokasi serangan pertama. Rekaman siaran langsung Reuters dari rumah sakit, yang dioperasikan oleh Masri, tiba-tiba terputus tepat saat serangan itu terjadi (Beritasatu.com, 25/8/2025).

Kematian para jurnalis ini menambah daftar panjang korban jiwa dari kalangan pers di Gaza sejak perang dimulai pada Oktober 2023, yang kini mencapai sekitar 200 orang. Badan internasional yang memprioritaskan kebebasan pers, Committee to Protect Journalists, mencatat konflik di Gaza adalah yang paling mematikan bagi para jurnalis. Dalam dua tahun terakhir, jumlah kematian jurnalis di Gaza telah melampaui total kematian jurnalis secara global dalam tiga tahun sebelumnya (BBC News, 26/8/2025).

Kondisi ini menegaskan betapa rapuhnya tatanan dunia saat ini. Demokrasi global, hukum internasional, hingga lembaga-lembaga penjaga perdamaian terbukti tidak mampu memberi perlindungan bagi rakyat tertindas. Kelemahan dunia hari ini tidak bisa dilepaskan dari dominasi sistem kapitalisme global yang dikuasai oleh Amerika dan sekutunya.

Ketimpangan itu nyata: mereka kerap berdialog tentang hak asasi manusia, kebebasan pers, maupun perlindungan warga sipil, namun pada saat yang sama justru memberikan dukungan penuh terhadap kejahatan Israel. Dukungan tersebut hadir dalam bentuk suplai senjata dan dukungan politik di forum internasional.

Maka, jika umat Islam masih berharap pada sistem demokrasi, hukum internasional, atau organisasi global seperti PBB, itu sama saja dengan berharap pada sesuatu yang sudah berulang kali terbukti gagal. Saatnya umat menyadari bahwa solusi hakiki tidak akan datang dari sistem buatan manusia yang sarat kepentingan. Solusi itu hanya bisa lahir dari penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah Islamiyyah.


Membela Kaum Muslim yang Tertindas adalah Kewajiban

Dalam Islam, membela kaum muslim yang ditindas adalah kewajiban syar’i. Allah Swt. berfirman:

“Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim…’” (QS. an-Nisa [4]: 75)

Ayat ini jelas menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh berpangku tangan melihat saudaranya dizalimi. Membela Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, melainkan kewajiban akidah.

Masalah terbesar umat hari ini bukanlah lemahnya simpati, melainkan absennya institusi yang mampu mengonsolidasikan kekuatan itu. Negara-negara muslim terpecah belah oleh nasionalisme dan terikat pada sistem kapitalisme global. Alhasil, mereka lebih memilih diam, atau bahkan menjalin normalisasi dengan Israel, daripada berani mengusir penjajah dari tanah Palestina.


Solusi Hakiki: Tegaknya Khilafah Islamiyyah

Islam kaffah hanya bisa terwujud jika umat memiliki institusi politik yang menerapkannya secara menyeluruh, yakni Khilafah Islamiyyah. Dalam sistem ini, membela umat tertindas bukanlah pilihan, melainkan kewajiban negara. Khalifah akan mengerahkan seluruh potensi militer, politik, dan ekonomi untuk menghentikan agresi penjajah.

Khilafah memiliki mekanisme jelas dalam menghadapi musuh, antara lain:

  • Jihad fi sabilillah sebagai kewajiban kolektif untuk melindungi umat dari agresi.
  • Kekuatan militer terpusat yang tidak terpecah belah seperti sekarang, sehingga dapat menjadi tameng nyata bagi umat Islam di seluruh dunia.
  • Politik luar negeri independen, tidak tunduk pada tekanan Amerika, PBB, atau kekuatan kapitalis lainnya.
  • Kesatuan umat di bawah satu kepemimpinan, menjadikan masalah Palestina bukan hanya urusan lokal, tetapi urusan seluruh kaum muslimin.

Dengan Khilafah, agresi Israel tidak akan dibiarkan berlarut-larut. Sejarah membuktikan, ketika umat dipimpin oleh satu kepemimpinan Islam, wilayah kaum muslim selalu terjaga. Sebaliknya, sejak runtuhnya Khilafah pada 1924, Palestina dan negeri-negeri Islam lainnya menjadi sasaran empuk penjajahan Barat.


Saatnya Umat Bersatu

Kebrutalan Zionis yang terus berulang adalah alarm keras bagi umat Islam untuk segera bangkit. Menyuarakan kecaman memang perlu, mengirim bantuan kemanusiaan juga penting. Namun semua itu tidak cukup untuk menghentikan penderitaan Palestina. Umat harus berani menyuarakan solusi hakiki, yakni tegaknya Islam kaffah melalui institusi Khilafah Islamiyyah.

Inilah saatnya umat bersatu, mengesampingkan sekat nasionalisme dan kepentingan sempit. Palestina bukan hanya milik rakyat Gaza, tetapi milik seluruh umat Islam di dunia. Tanggung jawab membebaskannya ada di pundak kaum muslimin secara keseluruhan.

Seruan untuk kembali kepada Islam kaffah dan menegakkan Khilafah harus terus digemakan, hingga dunia menyadari bahwa hanya dengan kekuatan Islamlah keadilan bisa ditegakkan dan Palestina benar-benar merdeka.

Wallahu a’lam bish-shawab.[]


*) Pegiat Literasi

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.