Krisis Ketenagakerjaan Global, Islam Hadir dengan Solusi
Oleh: Ummu Hanif Haidar*)
IndonesiaNeo, OPINI - Dunia saat ini menghadapi krisis ketenagakerjaan yang serius, ditandai dengan meningkatnya angka kemiskinan di sejumlah negara besar. Hal ini mencerminkan rapuhnya pemulihan ekonomi global di tengah tekanan inflasi, perlambatan pertumbuhan, dan gangguan politik. Kondisi tersebut menekan daya beli masyarakat serta menimbulkan potensi gejolak sosial dan politik akibat semakin terbatasnya kesempatan kerja, dengan anak muda sebagai pihak yang paling terdampak (CNBCIndonesia).
Inflasi masih menjadi penyebab utama krisis ketenagakerjaan ini. Banyak perusahaan melakukan perampingan tenaga kerja demi bertahan hidup. Perusahaan yang sebelumnya mudah menerima fresh graduate kini justru menutup kran penerimaan karyawan.
Jika dicermati dari struktur kerja perusahaan, saat ini digitalisasi sudah mulai dominan. Peran artificial intelligence (AI) pun mulai menggantikan peran kerja manusia.
Apabila sumber daya manusia (SDM) tidak mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan struktur kerja ini, maka kesenjangan antara kebutuhan industri dan kualitas SDM akan semakin tajam. Dengan semakin banyaknya populasi anak muda, maka semakin besar pula beban negara untuk menyediakan pekerjaan yang layak.
Tenaga kerja produktif yang menjadi tumpuan ekonomi bangsa adalah generasi muda. Namun, saat ini mereka justru kesulitan masuk ke dunia kerja. Hal ini menjadi ancaman besar bagi pertumbuhan ekonomi negara. Fenomena ini lumrah terjadi dalam sistem ekonomi kapitalis, yang cenderung menciptakan jurang kesenjangan sangat dalam. Pemilik modal atau perusahaan cenderung menikmati hasil, sementara pekerja ada yang ter-PHK dan kesulitan menyambung hidup.
Krisis Tenaga Kerja Global
Tidak dapat dipungkiri bahwa krisis tenaga kerja terjadi dalam skala global. Di Amerika, pada Agustus 2025 tercatat angka pengangguran sebesar 4,3%, sementara penambahan lapangan kerja baru hanya sekitar 22.000. Fakta ini menunjukkan kegagalan negara kapitalis dalam mewujudkan lapangan kerja sekaligus kesejahteraan rakyatnya.
Di Indonesia, pemerintah mengadakan job fair yang ternyata tidak menjadi solusi. Selain karena persaingan yang sangat ketat, kadang perusahaan hanya menampung CV pelamar saja tanpa membuka lowongan nyata.
Peran Penguasa dalam Menyediakan Lapangan Kerja
Dalam Islam, penguasa berperan sebagai raa’in (pengurus) yang mengurus urusan rakyatnya, termasuk dalam penyediaan lapangan kerja. Rasulullah saw. bersabda:
“Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Penguasa dalam Islam membangun sektor riil, bukan sekadar sektor spekulatif. Pertanian, perdagangan, dan industri dioptimalkan untuk tumbuh dan berkembang sehingga lapangan kerja tersedia secara merata, tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan.
Sistem pendidikan dalam daulah Islam diberikan bukan semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan, melainkan memiliki tujuan lebih tinggi: mencetak kepribadian Islam yang bertakwa sesuai tuntunan Nabi Muhammad saw. Kurikulum disusun sesuai kebutuhan umat, dan pendidikan dalam Islam diberikan secara gratis. Hal ini memastikan bahwa siapa pun dapat menuntut ilmu setinggi-tingginya tanpa terhalang biaya.
Penutup
Krisis ketenagakerjaan yang melanda dunia saat ini menunjukkan kegagalan sistem kapitalisme dalam menjamin kesejahteraan rakyat. Lapangan kerja semakin sempit, sementara jurang kesenjangan sosial kian melebar.
Islam hadir dengan solusi menyeluruh. Negara bertanggung jawab penuh menyediakan lapangan kerja melalui pengelolaan sektor riil, distribusi peluang secara merata, serta sistem pendidikan yang membentuk SDM unggul dan berkepribadian Islam.[]
*) Pemerhati Kebijakan


Post a Comment