Header Ads


Dominans Opinionum

Ilustrasi propaganda media

Oleh: Abu Al-MArQAsh


IndonesiaNeo, OPINI - Bertrand Russell pernah melontarkan ironi tajam tentang manusia modern. Ia berkata, “The fundamental cause of trouble in the world today is that the stupid are cocksure while the intelligent are full of doubt”. Ia mengatakan: penyebab paling mendasar dari kekacauan dunia hari ini adalah orang bodoh terlalu yakin, sementara orang pintar justru penuh keraguan. Ungkapan ini terdengar sederhana, tetapi sangat menusuk. Kutipan tersebut seolah menjelaskan mengapa konflik global terus berulang tanpa akhir. Mereka yang berpikir dangkal justru paling lantang. Mereka yang berpikir jernih malah ragu atau memilih diam.

Dalam konteks dunia hari ini, kata-kata Russell terasa semakin relevan. Tragedi Palestina masih berlangsung. Intervensi asing di Timur Tengah tak pernah berhenti. Perang informasi di media terus menggila. Semua itu menunjukkan satu pola yang sama. Keyakinan keliru sering tampil lebih berani dibanding kebenaran yang berhati-hati.

Di era media sosial dan informasi instan, suara paling keras sering dianggap paling benar. Narasi salah kaprah lebih cepat menyebar dibanding fakta yang butuh penjelasan. Tulisan ini mencoba membedah fenomena itu. Tentang “orang bodoh yang cocksure”. Tentang propaganda yang disuarakan penuh percaya diri. Juga tentang “orang pintar yang penuh keraguan”. Tentang intelektual yang gamang menyuarakan kebenaran.


Kekacauan Narasi dalam Konflik Global Terkini

Di era digital, perang tidak lagi hanya soal peluru dan bom. Medan tempurnya juga ada di timeline dan news feed. Konflik Palestina–Israel menjadi contoh paling nyata. Perang tidak hanya terjadi di Gaza atau Tepi Barat. Ia juga berlangsung di ruang maya. Sebuah studi komunikasi mencatat bahwa konflik Israel dan Hamas telah berubah menjadi pertarungan propaganda di media sosial. Masing-masing pihak berlomba merebut dukungan opini publik global.

Arus propaganda ini menimbulkan dampak serius. Konflik Israel–Hamas menciptakan gelombang informasi yang tidak akurat. Banyak di antaranya disengaja. Fakta di lapangan menjadi kabur. Klaim sepihak menyebar luas. Emosi massa dimanipulasi. Publik lebih suka mencari informasi yang menguatkan biasnya sendiri. Kebenaran objektif justru ditinggalkan. Polarisasi pun makin tajam.

Narasi bohong yang disampaikan dengan penuh keyakinan mendominasi ruang publik. Fakta yang kompleks tenggelam. Keraguan terhadap kebenaran justru membesar. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Palestina. Intervensi asing di Timur Tengah juga selalu dibungkus narasi simplistis. Narasi yang terdengar yakin. Narasi yang mudah dijual ke publik.

Invasi Irak menjadi contoh klasik. Dunia diyakinkan bahwa ada weapons of mass destruction. Klaim ini disuarakan penuh percaya diri. Belakangan terbukti keliru. Namun propaganda tersebut terlanjur sukses. Perang pun terjadi.

Hal serupa tampak dalam konflik Suriah, Yaman, dan krisis lain di dunia Islam. Narasi hitam-putih beredar luas. Kelompok tertentu dicap mutlak sebagai “teroris”. Pihak lain diposisikan sebagai “pahlawan”. Kompleksitas fakta diabaikan. Media arus utama global sering menyederhanakan konflik. Semua disesuaikan dengan kepentingan geopolitik.

Akibatnya, opini yang keliru tapi berapi-api justru menyebar luas. Sementara suara akademisi dan jurnalis independen tersingkir. Mereka dianggap terlalu rumit. Mereka dicurigai tidak berpihak.

Perang informasi juga tampak dari penggunaan istilah dan label. Perjuangan rakyat Palestina sering disebut “terrorism”. Penindasan sistematis jarang disebut “state terror”. Narasi ini diulang terus-menerus. Disampaikan dengan penuh keyakinan. Opini publik dunia pun terbentuk.

Algoritma media sosial memperparah keadaan. Filter bubble menyajikan konten yang menguatkan keyakinan awal pengguna. Kebohongan yang diulang terus terdengar seperti kebenaran. Kebenaran yang sebenarnya justru tampak meragukan. Propaganda modern memahami satu hal. Yang terpenting bukan benar atau salah. Yang penting adalah memenangkan persepsi. Inilah wajah chaos informasi dunia hari ini.


Ketika yang Bodoh Terlalu Yakin, yang Cerdas Penuh Keraguan

Kegaduhan narasi global mencerminkan tepat apa yang dimaksud Russell. Orang yang minim pemahaman justru paling yakin. Mereka bicara lantang. Mereka merasa benar sendiri. Mereka tidak ragu menghakimi.

Sebaliknya, orang yang memahami kompleksitas justru dipenuhi keraguan. Bukan karena tidak punya prinsip. Tetapi karena sadar masalah tidak sesederhana hitam dan putih.

Media sosial dipenuhi “pemikir instan”. Tokoh dadakan bermunculan. Tanpa data memadai, mereka menghakimi dengan berani. Saat krisis Gaza 2023, linimasa penuh komentar ekstrem. Ada opini yang digiring bahwa para pejuang Palestina sebagai teroris.

Perdebatan berlangsung sengit. Semua merasa paling tahu kebenaran. Padahal argumen mereka sering dibangun di atas hoaks. Atau propaganda mentah.

Fenomena ini pernah disindir W.B. Yeats. Ia berkata, “The best lack all conviction, while the worst are full of passionate intensity.” Orang-orang terbaik kehilangan keyakinan. Orang-orang terburuk justru penuh gairah. Kepastian palsu mengalahkan kebijaksanaan.

Situasi ini berbahaya. Overconfidence orang yang sesat informasi bisa mendorong kebijakan destruktif. Publik yang yakin pada propaganda mudah mendukung perang. Penguasa pun leluasa melakukan agresi.

Sementara itu, orang cerdas justru melemah. Mereka takut keliru. Mereka khawatir melawan arus mayoritas. Vox populi menjadi bising. Tetapi tidak bijak. Kekacauan pun berlanjut.

Akhirnya, banyak orang pintar memilih diam. Kebenaran yang berhati-hati kalah pamor dari kebodohan yang penuh keyakinan. Namun tidak semua keraguan lahir dari kebijaksanaan. Ada juga yang ragu karena takut. Ada yang diam demi kenyamanan. Di sinilah dilema itu muncul.


Dilema Intelektual dan Ulama: Antara Kebenaran dan Kenyamanan

Di banyak negeri Muslim, fenomena ini terasa tragis. Banyak ulama dan intelektual tahu ada kezaliman. Mereka paham ketidakadilan nyata. Namun mereka memilih diam.

Mereka tidak bisu karena tidak tahu. Mereka diam karena tidak mau menanggung risiko. Yang lahir bukan kejujuran. Yang muncul justru kehati-hatian licik. Selama posisi aman, mereka merasa cukup. Gaji tetap berjalan. Jabatan terjaga. Mimbar tidak dicabut.

Amanah moral dikorbankan demi status quo pribadi.

Dalam isu Palestina, pola ini tampak jelas. Banyak tokoh Muslim tahu penderitaan rakyat Palestina. Namun di forum internasional mereka memilih kalimat aman. Mereka mengutuk “semua bentuk kekerasan dari kedua belah pihak”. Mereka menghindari posisi tegas. Mereka bermain aman secara politik.

Di dalam negeri, kritik terhadap kekuatan asing sering dianggap tabu. Intelektual yang seharusnya menjadi suara nurani zaman justru tenggelam di seminar dan jurnal. Mereka menjadi penyair kekuasaan. Bukan penjaga nurani sosial.

Dalih religius sering dipakai untuk membungkam kebenaran. Stabilitas dijadikan mantra. Ulama diminta mendoakan negara. Penindasan manusia nyata diabaikan. Konsep amar ma’ruf nahi munkar direduksi. Ia dipersempit menjadi urusan moral individu. Bukan kewajiban sosial.

Mereka yang berani bersuara segera dicap pembangkang. Disebut subversif. Dilabeli pemecah belah. Perlawanan dikriminalisasi. Kepatuhan dibungkus kesucian.

Noam Chomsky pernah berkata, “Sometimes people don’t want truth, they want comfort”. Chomsky menyatakan bahwa manusia sering mencari kenyamanan, bukan kebenaran. Dalam konteks ini, diamnya intelektual adalah pilihan kenyamanan. Jabatan. Fasilitas. Nama baik.

Inilah dilema moral besar dunia Islam hari ini. Ketika kebenaran dibungkam, kezaliman tumbuh subur. Otoritarianisme mendapat legitimasi. Prinsip Islam dikhianati secara perlahan.

Padahal sejarah Islam mencatat teladan berbeda. Imam Nawawi. Ibn Taymiyyah. Mereka rela kehilangan jabatan. Mereka rela dipenjara. Mereka menolak diam di hadapan tirani. Mereka paham satu hal. Kebenaran tidak boleh ditunda.


Sudut Pandang Islam Ideologis: Kebenaran, Persatuan, dan Kepemimpinan

Dari perspektif Islam ideologis, situasi ini menuntut kebangkitan kepemimpinan berani. Islam memerintahkan penyampaian al-haq. Islam memerintahkan pembongkaran al-bathil. Seorang Muslim wajib menjadi syuhada’ ‘ala an-nas. Kesaksian tidak boleh disembunyikan.

Rasulullah ï·º bersabda, “Jihad paling utama adalah menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa zalim.” Artinya jelas. Berbicara benar adalah kewajiban. Risiko bukan alasan untuk diam.

Namun kebenaran tidak cukup disuarakan individu. Dibutuhkan kepemimpinan kolektif. Kepemimpinan yang menjadikan Islam sebagai ideology. Bukan sekadar ritual. Dunia Islam hari ini krisis kepemimpinan. Negara-negara Muslim terpecah. Rezim-rezimnya pragmatis. Banyak tunduk pada pengaruh asing.

Dalam isu Palestina, kegagalan ini terlihat nyata. Kecaman hanya bersifat simbolik. Bantuan hanya kosmetik. Tindakan nyata nyaris tidak ada. Keberanian ideologis absen.

Islam ideologis menawarkan jalan berbeda. Persatuan umat menjadi kunci. Jika umat bersatu di bawah kepemimpinan ideologis, propaganda asing sulit menembus. Sejarah mencatat peran Khilafah. Dulu Palestina terlindungi. Karena umat bersatu.

Pemimpin ideologis tidak akan ragu menantang narasi Barat. Standarnya adalah syariat. Bukan restu internasional. Penjajahan disebut kezaliman. Bukan dibungkus istilah netral.

Ulama ideologis akan mendidik umat berpikir dengan hukum syara’. Amar ma’ruf nahi munkar dikembalikan sebagai proyek sosial. Kebenaran tidak dikompromikan demi citra moderat versi Barat. Prinsipnya jelas. Al-Islam ya’lu wa la yu’la ‘alaih.


Islam sebagai Ideologi yang Menyelesaikan Krisis Global

Islam bukan sekadar agama spiritual. Islam adalah ideologi. Ia mengatur ibadah. Ia mengatur politik. Ia mengatur ekonomi. Ia mengatur hubungan internasional.

Selama Islam dipinggirkan, krisis terus berulang. Kapitalisme mendominasi. Kepentingan materi memicu perang. Islam menawarkan alternatif. Islam mengharamkan penjajahan. Islam melarang agresi.

Islam juga menolak hoaks. Kebohongan sekecil apa pun dilarang. Inilah nilai penting di era post-truth. Namun nilai ini butuh institusi. Butuh negara.

Karena itu, banyak cendekiawan menegaskan pentingnya tatanan Islam kaffah. Khilafah bukan romantisme. Ia mekanisme nyata. Satu kepemimpinan. Satu komando. Satu visi.

Dengan kepemimpinan ideologis, umat punya arah. Palestina tidak lagi jadi isu pinggiran. Perang informasi bisa dilawan. Propaganda bisa dipatahkan.

Islam sebagai ideologi menuntut keberanian. Umat harus keluar dari inferioritas. Moderasi versi Barat sering berarti kompromi prinsip. Islam mengajarkan keseimbangan tanpa menyerah.


Penutup: Jalan Keluar dari Kekacauan

Dunia hari ini berada dalam kekacauan mendasar. Seperti kata Russell. Jalan keluarnya tidak akan muncul dari diam. Keyakinan palsu harus dilawan. Dominans opinionum harus dipatahkan. Karena opini dominan saat ini umumnya bersumber dari hegemoni hoaks dan disinformasi. 

Ulama dan intelektual Muslim harus kembali pada peran profetik. Diam bukan pilihan. Diam berarti bersekutu dengan kezaliman.

Solusi mengerucut pada dua hal. Perbaikan narasi. Perbaikan tatanan. Narasi Islam harus disuarakan dengan percaya diri. Hoaks harus dilawan. Opini umat harus diarahkan.

Tatanan politik ideologis harus diperjuangkan. Kepemimpinan Islam harus kembali dihadirkan. Persatuan umat bukan utopia. Ia kebutuhan sejarah.

Akhirnya, umat Islam tidak boleh membiarkan dunia dipimpin oleh keyakinan jahil. Dengan wahyu dan akal, umat seharusnya memimpin. Bukan dengan arogansi. Tetapi dengan ketegasan.

Ketika kebenaran disuarakan tanpa takut. Ketika sistem mendukungnya. InsyaAllah, kekacauan dunia bisa diurai. Islam menawarkan cahaya. Tinggal keberanian untuk melangkah.[]


Referensi:

  • https://www.goodreads.com/work/quotes/25803815-mortals-and-others
  • https://jurnal.minartis.com/index.php/jkomdis/article/download/1376/1223/3870
  • https://www.aljazeera.com/news/2023/10/14/analysis-propaganda-deception-fake-news-and-psychological-warfare
  • https://trudymorgancole.wordpress.com/2014/08/03/certainty/
  • https://omong-omong.com/saat-ulama-dan-intelektual-memilih-diam-di-tengah-kezaliman/
  • https://www.tintasiyasi.id/2024/11/solusi-masalah-palestina-adalah-jihad.html
  • https://www.wacana-edukasi.com/islam-solusi-masalah-global/
  • https://www.radaraceh.id/2025/12/menyelamatkan-generasi-dengan-ideologi.html

*) Pemerhati Dunia Muslim

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.