Teladan Sya’ban: Sahabat Ahli Sholat yang Pilih Rumah Jauh dari Masjid

Ilustrasi perjalanan sholat subuh sebagaimana kisah sahabat: Sya'ban
IndonesiaNeo, TELADAN - Di sepertiga malam terakhir, terlihat sosok sahabat Sya’ban melangkah gontai menuju Masjid Nabawi. Ia tidak pernah merasa berat menapak tiga jam perjalanan kaki demi beribadah – setiap langkahnya bagai setitik cahaya keimanan. Kisah Sya’ban mengajarkan bahwa sejauh apa pun rintangan, keikhlasan dan konsistensi dalam shalat berjamaah akan mendekatkan diri pada ridha Allah.
Sya’ban bin ‘Abdullah al-Quraisy adalah seorang sahabat Nabi yang dikenal keteguhan imannya. Berasal dari keluarga mulia Quraisy di Mekkah, ia memeluk Islam di masa-masa sulit, hijrah ke Madinah, dan mengabdikan hidupnya untuk agama Allah. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Sya’ban sangat antusias mengikuti ajaran Rasulullah, terlebih dalam hal shalat berjamaah. Keikhlasan dan semangat dakwahnya bahkan diibaratkan melebihi nama bulan Sya’ban (yang berarti banyak keberkahan). Meskipun latar keluarganya terpandang, keutamaan utama Sya’ban justru terletak pada keteguhan hati dan ketaatannya memperjuangkan agama Islam[1].
Di Madinah, masjid Nabawi menjadi pusat ibadah kaum muslimin. Uniknya, Sya’ban tidak memilih tinggal dekat masjid seperti sahabat lainnya. Ia justru membangun rumah paling jauh – sekitar tiga jam berjalan kaki dari Masjid Nabawi. Meski demikian, dia tak pernah absen satu kali pun dari shalat berjamaah bersama Rasulullah SAW. Bahkan Sya’ban selalu datang paling awal dan memilih tempat di pojok masjid agar tidak mengganggu yang datang belakangan[2]. Sikapnya ini memukau para sahabat, karena di saat lain berlomba dekat dengan Nabi, Sya’ban justru pilih berjauhan.
Kisah Perjuangan Sya’ban ke Masjid
Suatu hari, Ubay bin Ka’ab (mantan pendeta Yahudi yang masuk Islam) penasaran dan menyarankan agar Sya’ban membawa keledai supaya perjalanannya lebih ringan. Dengan tenang Sya’ban menjawab, “Demi Allah, aku tak senang jika rumahku berdekatan dengan rumah Rasulullah. Aku lebih suka tinggal di rumah yang jauh dari beliau”[2]. Ketika Rasulullah mendengar kabar ini, Beliau mengunjungi rumah Sya’ban – dan setelah tiga jam perjalanan barulah tiba di rumahnya[3].
Namun, rupanya pagi itu Sya’ban telah wafat sebelum sempat shalat Subuh. Ketika ditanya bagaimana bisa ia absen, istri Sya’ban menceritakan bahwa menjelang ajalnya Sya’ban berulang kali berseru, “Aduh, kenapa tidak lebih jauh? Aduh, kenapa tidak yang baru?…”[3]. Dari sisipan kisah ini diketahui bahwa Sya’ban menyaksikan pahala setiap amalnya, termasuk jiwa yang rela melangkah jauh menuju masjid. Saat itu Sya’ban melihat surga sebagai ganjaran amaliahnya, lalu ia hanya menyesal tidak membangun rumahnya lebih jauh lagi sehingga bisa mendapat pahala lebih besar[2][3].
Keutamaan Amalan dalam Hadits
Kisah Sya’ban selaras dengan sejumlah hadits shahih tentang keutamaan shalat berjamaah dan tiap langkah menuju masjid. Rasulullah SAW bersabda bahwa “Barangsiapa bersuci di rumahnya, lalu berjalan menuju salah satu rumah Allah (masjid) untuk menunaikan kewajiban, maka salah satu langkahnya akan menghapus dosa dan langkah yang lain menaikkan derajatnya”. Begitu juga dijelaskan bahwa setiap langkah ke masjid adalah sedekah kepada Allah. Bahkan ada riwayat bahwa Rasulullah menyebut, “Allah telah mencatat bagimu semua langkahmu (saat pergi dan pulang dari masjid)”[4]. Inilah hikmah di balik pilihan Sya’ban: dengan rumah jauh, setiap langkahnya berlipat menjadi kebaikan. Shalat berjamaah pun jelas lebih utama – hadits menyebut shalat jamaah keutamaan-nya berpuluh kali lipat daripada sendirian (sebagai tambahan motivasi) – namun yang terpenting dalam kisah ini adalah konsistensi dan keikhlasan Sya’ban menghadirkan diri di masjid meski harus berkorban waktu dan tenaga.
Nilai Teladan untuk Kehidupan Modern
- Kedisiplinan Ibadah. Sya’ban mengajarkan kita bahwa niat dan konsistensi adalah kunci. Ia buktikan ketulusan hatinya dengan berjalan tiga jam ke masjid tanpa pernah ketinggalan shalat jamaah[2]. Keteguhan seperti ini menantang kita agar tak menjadikan alasan jarak atau repot sebagai penghalang beribadah, terutama di era modern di mana sarana transportasi seharusnya memudahkan ke masjid.
- Memaksimalkan Setiap Langkah. Setiap langkah kecil bisa bernilai besar di sisi Allah. Hadits menjelaskan “setiap langkah menuju masjid adalah sedekah” dan menghapus dosa/mengangkat derajat[4]. Semangat Sya’ban menghitung pahala tiap lembar kakinya (bahkan rela rumahnya jauh agar lebih banyak langkah) seharusnya menginspirasi kita untuk memanfaatkan kesempatan sekecil apa pun demi mendapatkan berkah.
- Keikhlasan dan Pengorbanan. Pilihan Sya’ban tinggal jauh adalah bentuk keikhlasan beribadah. Ia rela meninggalkan kenyamanan demi meraih ridha Allah[2]. Sikap rela berkorban ini mengajarkan bahwa beribadah seharusnya didasari kerelaan hati, bukan semata kemudahan. Di zaman serba instan ini, kita diajak kembali pada spirit jihad kecil – mengorbankan waktu, tenaga, atau kenyamanan demi kebaikan.
- Bekal Akhir Hayat. Kisah penyesalan Sya’ban menjelang ajalnya – “mengapa rumahku tidak lebih jauh lagi”[2] – justru menjadi teladan yang sangat bermakna. Ia menyesal karena meski pahalanya besar, ia ingin lebih maksimal lagi. Ini mengingatkan kita untuk tak menunda-nunda kebaikan. Mulailah hari ini, jangan sampai kelak kita menyesal karena berpikir “seandainya saya melakukan lebih banyak….” ketika mendapat tontonan amal di akhir hayat.
- Relevansi di Zaman Kini. Di era modern, kita memiliki kemudahan seperti kendaraan bermotor atau waktu luang fleksibel. Tidak ada alasan untuk melewatkan jamaah. Jika Sya’ban berjalan kaki 3 jam, kita tentu bisa menyisihkan waktu ke masjid yang tak lebih dari belasan menit. Kisah ini mengajak kita menjaga cinta masjid, memuliakan waktu shalat, dan selalu berusaha mendekat kepada Allah sebanyak mungkin.
Semoga teladan Sya’ban menginspirasi kita untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amal. Jadikan setiap kesempatan beribadah sebagai investasi akherat, dan berlomba-lomba dalam kebaikan tanpa penyesalan. Langkah kecil hari ini, bisa jadi jembatan menuju nikmat surga kelak.[]Adm
Sumber:
- [1] https://baznas.go.id/artikel-show/Kisah-Sahabat-Syaban:-Semangat-Dakwah-dan-Pengorbanan-Tiada-Henti/799
- [2] https://jatim.nu.or.id/rehat/kisah-sya-ban-yang-lebih-memilih-rumahnya-jauh-dari-nabi-muhammad-k2JEZ
- [3] https://www.masjidnusantara.org/mengapa-syaban-memilih-membangun-rumah-jauh-dari-masjid-rasulullah/
- [4] https://rumaysho.com/159-pergi-dan-pulang-dari-masjid-akan-mendapatkan-ganjaran-pahala.html

Post a Comment