Ketika Ekonomi Kehilangan Arah: Salah Ilmu atau Salah Sistem?
IndonesiaNeo, EKONOMI - Banyak orang merasakan ada yang janggal dalam kehidupan ekonomi hari ini. Ketimpangan terus melebar. Eksploitasi seolah tak pernah berhenti. Krisis datang silih berganti. Padahal, ekonomi diurus oleh para ahli. Bahkan oleh peraih Nobel.
Selama ini, masalah sering dianggap bersumber dari kesalahan hitung. Atau strategi yang kurang tepat. Namun, sebuah kajian falsafah ekonomi Islam justru mengajukan tesis berbeda. Persoalannya bukan pada ilmunya. Melainkan pada sistem yang melandasinya.
Pandangan ini disarikan dari kajian bertema falsafah ekonomi Islam yang dipublikasikan oleh Ngaji Shubuh, Januari 2026, serta dipaparkan dalam kajian di NSTV.
Ilmu Ekonomi Bukan Penguasa, Melainkan Pelaksana
Dalam perspektif Islam, kedudukan ilmu ekonomi dibalik total. Ilmu tidak berdiri di atas sistem. Justru sebaliknya. Sistem ekonomi menjadi induk. Ilmu hanyalah alat.
Analogi yang digunakan sangat sederhana. Sistem ekonomi diibaratkan sebagai wadah. Ilmu ekonomi adalah isinya. Bentuk isi selalu mengikuti bentuk wadah.
Analogi lain lebih tajam. Sistem ekonomi adalah majikan. Ilmu ekonomi hanyalah buruh. Buruh bekerja sesuai perintah. Ia tidak menentukan arah.
Dari sini muncul kesimpulan penting. Ilmu ekonomi tidak pernah netral. Setiap analisis selalu tunduk pada sistem tertentu. Entah kapitalisme. Sosialisme. Atau Islam.
Inilah kritik utama terhadap ekonomi modern. Ilmu dianggap objektif. Padahal sejak awal ia sudah mengabdi pada sebuah sistem nilai.
Kasus Minyak: Kesalahan Dimulai dari Pertanyaan
Contoh paling mudah adalah pengelolaan minyak. Misalnya, sumur minyak dikuasai perusahaan asing.
Pendekatan ilmu ekonomi konvensional langsung bergerak. Fokusnya efisiensi. Fokusnya keuntungan. Berapa biaya produksi. Berapa margin laba.
Namun sistem ekonomi Islam mengajukan pertanyaan lebih dasar. Bolehkah minyak dimiliki swasta. Apalagi asing.
Jawabannya tegas. Tidak boleh. Minyak adalah milik umum. Dalilnya jelas. Rasulullah SAW bersabda bahwa manusia berserikat dalam air, padang rumput, dan api (energi). Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud.
Negara bukan pemilik. Negara hanyalah pengelola. Bahkan keuntungan dari pengelolaan itu pun tidak boleh diambil. Riwayat Ibnu Abbas menegaskan bahwa harga atau keuntungan dari sumber daya milik umum adalah haram.
Di sinilah ilmu ekonomi bekerja. Bukan untuk memaksimalkan laba. Tetapi menghitung biaya riil produksi. Agar minyak bisa didistribusikan kepada rakyat sebagai pemiliknya. Gratis. Atau sebatas biaya produksi.
Perintah sistem menentukan arah kerja ilmu.
Label Syariah dalam Kerangka yang Salah
Kritik berikutnya diarahkan pada fenomena “syariahisasi” ekonomi. Bank syariah. Asuransi syariah. Pasar modal syariah.
Semangatnya baik. Namun sering keliru. Karena yang diubah hanya label. Bukan sistem.
Ibarat isi halal dimasukkan ke wadah haram. Wadahnya tetap kapitalisme. Filosofinya tidak berubah. Motif labanya sama. Cara pandang kepemilikannya tetap.
Akibatnya, produk berlabel syariah tetap bekerja di bawah perintah sistem kapitalis. Sang buruh ingin jujur. Tetapi majikannya salah arah.
Inilah jebakan besar yang sering tidak disadari oleh ekonom Muslim.
Apa yang Sebenarnya Bernilai?
Ekonomi modern mendefinisikan nilai dari harga pasar. Dari permintaan dan penawaran.
Akibatnya absurd. Minuman keras bernilai tinggi karena mahal. Udara bersih dianggap tak bernilai karena gratis.
Islam menawarkan definisi berbeda. Nilai ditentukan oleh kemampuan memenuhi kebutuhan hakiki manusia. Bukan sekadar keinginan. Ditambah faktor kelangkaan.
Air sangat dibutuhkan. Tapi murah karena melimpah. Intan tidak dibutuhkan. Tapi mahal karena langka.
Lebih jauh lagi, Islam tidak membatasi nilai pada materi. Kapitalisme hanya mengenal nilai material. Islam mengakui nilai kemanusiaan. Nilai moral. Nilai spiritual.
Orang berkorban demi sesama. Itu bernilai. Meski tak menghasilkan uang.
Definisi ini menjadi antitesis konsumerisme. Produksi tidak diarahkan untuk memuaskan hasrat tanpa batas. Tetapi untuk memenuhi kebutuhan nyata seluruh masyarakat.
Mengubah Arah Pertanyaan
Kajian ini menegaskan satu hal penting. Ilmu hanyalah alat. Sistemlah yang menentukan arah.
Selama sistemnya keliru. Ilmu secanggih apa pun akan melahirkan ketidakadilan.
Karena itu, perdebatan ekonomi seharusnya tidak berhenti pada angka. Tetapi naik ke level filosofi. Tujuan hidup. Dan keadilan sosial.
Sebagaimana disarikan dari kajian Ngaji Shubuh (Januari 2026) dan tayangan NSTV, pertanyaan terpenting hari ini bukan lagi “bagaimana menghitung?”.
Melainkan, sistem ekonomi apa yang sedang kita patuhi setiap hari?[]Adm


Post a Comment