Header Ads


Nasib Para Penentang Dakwah Islam

Ilustrasi para penentang Islam dari masa ke masa


IndonesiaNeo, TARIKH - Sejak awal dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah, telah muncul sejumlah tokoh Quraisy yang terbuka memusuhi ajaran Islam. Di antara mereka, yang paling dikenal adalah Abu Lahab (ʿAbd al-ʿUzzā bin ʿAbdul Muṭṭalib) dan Abu Jahal (ʿAmr bin Hisyam)[1][2]. Abu Lahab, paman Nabi sendiri, terkenal karena kebenciannya yang keras terhadap dakwah Islam. Ia bahkan mengejek Nabi Muhammad dengan melontarkan kata “Celakalah engkau!” ketika Nabi mengumpulkan kaum Quraisy untuk berdakwah. Tindakan ini diabadikan dalam Al-Qur’an, Surah al-Lahab yang memproklamirkan kebinasaan Abu Lahab dan istrinya[3]. Secara historis, Abu Lahab tidak berperang di Badar, dan konon meninggal dunia beberapa waktu setelah kabar kemenangan kaum Muslim di Badar (tahun 624 M). Di sisi spiritual, ia dikenal dalam tradisi Islam sebagai orang yang dibinasakan di neraka karena permusuhannya[1][3].

Abu Jahal (nama aslinya ʿAmr bin Hisyam) adalah tokoh Quraisy lain yang agresif menentang Rasulullah dan para sahabatnya. Julukannya “Bapak Kebodohan” mencerminkan permusuhannya yang membabi buta. Ia ikut memimpin serangan pasukan musyrik dalam beberapa konflik awal, hingga akhirnya tewas di Perang Badar tahun 624 M[2]. Dalam kisah kemenangan Badar, Muhammad ﷺ menganugerahkan kepada dua pemuda Anshar yang membunuh Abu Jahal sebagai bentuk penghargaan atas keberanian mereka. Secara historis, kematian Abu Jahal di medan perang menandai akhir kekuasaan tokoh Quraisy besar itu. Dari sisi spiritual, Al-Qur’an menegaskan bahwa Abu Jahal termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan balasan neraka karena permusuhan mereka[2].

Selain kedua tokoh di atas, beberapa pemimpin Quraisy lainnya juga aktif menentang Islam. Misalnya, Utbah bin Rābiʿah, Syaibah bin Rābiʿah, dan ʿUtbah bin Abu Lahab (saudara Abu Lahab) turut memusuhi Nabi dan sebagian besar gugur dalam pertempuran Uhud dan perang Badar. Bahkan Umar bin Khattab, yang kelak menjadi khalifah kedua, sempat berada di barisan penentang saat pertemuan dakwah di Shafa awalnya[3]. Beruntung, Umar cepat berubah sikap; dalam beberapa tahun ia menerima Islam dan menjadi salah satu pendukung terkuat dakwah Rasulullah.


Pemberontakan Pasca Wafatnya Nabi (Perang Riddah)

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, pemerintahan Islam yang baru di bawah Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq menghadapi gelombang pemisahan diri dan pengakuan kenabian palsu di beberapa daerah. Berbagai tokoh muncul menentang sentralisasi agama Islam, mendorong terjadinya Perang Riddah (Apostasi Wars).

Salah satu yang terkenal adalah Musailamah al-Kadzab (Maslamah bin Habib), dari suku Bani Hanifah di Yamamah. Musailamah mendeklarasikan dirinya sebagai nabi dan mengajak banyak orang mengikuti ajarannya. Menurut tradisi Islam, klaim kenabiannya ini dianggap palsu[4]. Ketika pasukan muslim bertempur menghadapi Musailamah di Perang Yamamah (632 M), pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid berhasil mengalahkannya. Musailamah terbunuh dalam perang itu. Secara historis, kematiannya mengakhiri pemberontakan Bani Hanifah tersebut, dan dipercaya pasukan Muslim mengklaim banyak harta rampasan dari markas Musailamah. Dalam perspektif spiritual, Musailamah disebut al-Kadzab (“si Pembohong”) dan dianggap sebagai orang kafir yang menyesatkan pengikutnya[4].

Tulayhah al-Asadi dari suku Bani Asad awalnya bahkan sempat memeluk Islam pada masa Nabi, lalu berpaling setelah beliau wafat. Pada tahun 631 M (tahun pertama kepemimpinan Abu Bakar) Tulayhah murtad dan mengaku sebagai nabi[5]. Ia mengumpulkan pasukan dari sukunya dan hendak menyerang Madinah, tetapi dikalahkan pasukan Muslim dalam beberapa pertempuran (termasuk Buzakha). Tulayhah melarikan diri ke Syam (Suriah). Menariknya, dalam beberapa tahun berikutnya Tulayhah bertobat dan kembali memeluk Islam pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (tahun 634 M). Ia kemudian ikut berjuang dalam penaklukan Persia dan akhirnya gugur sebagai pahlawan muslim dalam Pertempuran Nahawand (642 M)[5]. Dari sudut pandang spiritual, kisahnya menjadi contoh perubahan nasib: dari penentang yang mengaku nabi, menjadi sahabat Islam yang syahid.

Di sisi lain, ‘Al-Aswad al-Ansi (nama aslinya ‘Abḥala bin Ka‘b) di Yaman turut mengaku nabi pada akhir masa Rasulullah. Ia berhasil menaklukkan sebagian besar Yaman dan bahkan menikahi janda raja setempat. Gelarnya diubah menjadi “Rahman Yaman” (Ar-Raḥmān li-Yaman)[6]. Namun, penguasaannya hanya bersifat singkat. Menjelang wafatnya Nabi (632 M), Aswad dibunuh dalam sebuah aksi rahasia oleh pasukan Muslim (dipimpin Fayruz al-Daylami). Setelah itu, Yaman kembali menjadi bagian dari kekhalifahan Rashidun. Dalam catatan spiritual Islam, Aswad digambarkan sebagai nabi palsu keempat (bersama Musailamah, Tulayhah, dan Sajah) yang berusaha menggagalkan dakwah Nabi di ujung hayat beliau[6].

Sajah binti al-Ḥārith (atau Sijah) adalah satu-satunya wanita yang mengaku nabi pada masa perang Riddah. Berasal dari suku Tamim di Irak/Yaman, Sajah sempat memimpin beberapa kelompok dalam melawan Madinah, bahkan menikah dengan Musailamah dan merencanakan serangan terhadap Madinah. Namun nasibnya berakhir berbeda: setelah kekalahan kaum pemberontak, Sajah akhirnya menerima Islam dan wafat sebagai seorang muslim. Buku Islamic Desk Reference menyebut ia “kelak masuk Islam dan wafat sebagai Muslim”[7], memperlihatkan bahwa perlahan golongan penentang yang bertobat mendapatkan pengampunan dan bergabung dengan umat Islam.


Penolakan oleh Penguasa Non-Arab dan Akhirnya

Di luar Jazirah Arab pun terdapat beberapa pemimpin yang menolak ajakan Islam. Misalnya, Kaisar Persia Khosrow II Parwiz (Kisra) menerima surat dakwah Nabi Muhammad tapi marah dan merobeknya[8]. Konon ia mengecam, “budak hina berani tulis namanya di depan namaku”. Tak lama kemudian Khosrow digulingkan dan dibunuh oleh anaknya sendiri. Menurut riwayat Islam, gubernur Yamannya, Badhan (Būḥayna), yang diperintahkan memburu Nabi, justru akhirnya memeluk Islam setelah mendapat kabar kematian Khosrow[8].

Cerita serupa juga muncul dalam tradisi Islam mengenai Heraklius, kaisar Kekaisaran Romawi Timur. Heraklius dikisahkan sempat mempertimbangkan ajakan Nabi; ia kabarnya berkata kepada dewan Romawi: “Jika kamu menghendaki keselamatan dan agama yang benar, ikutilah nabi ini”[9]. Namun akhirnya ia tetap menjaga kepercayaannya sendiri (Kristen Ortodoks) dan tidak masuk Islam. Keberanian dan keteguhan kaum Muslim mengalahkan tentara Byzantium dalam beberapa dekade berikutnya (misalnya penaklukan Suriah dan Mesir pada 630-an M) menjadi pembuktian historis bahwa ajaran Islam justru meluas, sementara para penguasa penentangnya tumbang.

Secara umum, cerita-cerita sejarah ini menunjukkan dua pola akhir nasib: para penentang yang tetap keras biasanya berakhir dipermalukan atau tewas (seperti Abu Lahab yang dikutuk Al-Qur’an, Abu Jahal yang tewas di Badar, Musailamah dan Aswad yang terbunuh), sedangkan yang menoleh kemudian mendapatkan rahmat (seperti Umar bin Khattab, Tulayhah, Sajah, bahkan Badhan)[3][5][7]. Masing-masing kisah di atas dihimpun dari catatan sejarah Islam dan sirah otentik, yang mencatat latar belakang tokoh, bentuk penentangannya, dampak perbuatannya, serta bagaimana akhir hidup mereka secara historis dan spiritual[1][6].


Sumber: 

  • [1] https://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Lahab
  • [2] https://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Jahal
  • [3] https://www.detik.com/hikmah/dakwah/d-6948020/tokoh-quraisy-yang-menentang-dakwah-rasulullah-di-bukit-shafa
  • [4] https://id.wikipedia.org/wiki/Musailamah_al-Kazzab
  • [5] https://id.wikipedia.org/wiki/Thulaihah_al-Asadi
  • [6] https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Aswad_al-Ansi
  • [7] https://en.wikipedia.org/wiki/Sajah
  • [8] https://en.wikipedia.org/wiki/Khosrow_II
  • [9] https://en.wikipedia.org/wiki/Diplomatic_career_of_Muhammad


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.