Header Ads


Bulan Belanja, Apa Khabar Rojali dan Kawan-Kawan?


Oleh : Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

Sebuah Tagline berita menarik untuk didetili, " Sambut Bulan Baru, Saatnya Belanja di Transmart Full Day Sale",  sebagai kaum perempuan tentulah jiwa belanjanya meronta-ronta. Awal bulan, identik dengan terima gaji, pasti berikutnya adalah saat merealisasikan list belanja yang sudah dibuat jauh-jauh hari. 

Sebuah ajakan yang menggugah selera, semua tahu kebutuhan rumah tangga tak ada habisnya, dengan adanya tawaran spesial atau diskon, belanja di tempat yang nyaman, futuristik, estetik hingga bergengsi adalah impian banyak orang. Tanpa sadar, inilah bentuk opini yang memang digunakan pihak marketing dalam menggaet konsumen hingga pelanggan. 

Tak hanya satu nama retail, tapi banyak, dan semua menawarkan servis yang beragam bahkan all out. Baik offline maupun market place. Meski promosi dan diskon  hanya untuk item tertentu yang sudah bekerja sama dengan lembaga pembayaran,  seperti bagi para pelanggan yang menggunakan Allo Bank atau kartu kredit Bank Mega, kartu kredit Bank Mega Syariah, kartu kredit Bank Syariah Indonesia, dan kartu kredit Bank Mandiri (cnncindonesia.com, 1-11-2025). 

Apa Khabar Rojali dan Kawan-Kawannya?

Inilah cara sistem Kapitalisme bekerja, memanfaatkan psikologi belanja untuk mendapatkan keuntungan. Meski nyata yang digunakanadalah transaksi riba dan ekslusif ( pilihan pembeli dari segmen tertentu). Padahal, yang namanya kebutuhan pokok sejatinya tak berubah. Yaitu seputar sandang, pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Dalam Kapitalisme dibuat lebih beragam, hingga mengarah pada sikap konsumtif dan hedonisme. Karena kebutuhan bukan lagi bicara kebutuhan melainkan gaya hidup atau prestise. 

Lantas bagaimana  kabar Rojali (Rombongan jarang Beli), Rohana (Rombongan hanya nanya), Rohalus (rombongan hanya elus-elus), Rohali (Rombongan hanya lihat-lihat), Rocega ( Rombongan cek harga), Romansa (Rombongan manis senyum aja), Rotasi (Rombongan tanpa transaksi), Tosali (Rombongan suka selfie), Rocuta (Rombongan cuci mata) dan lainnya?

Sudah bisa dipastikan, jumlah mereka akan semakin bertambah. Pertama karena adanya penurunan daya beli, kondisi ekonomi yang sulit dan tingginya angka pengangguran membuat masyarakat mengurangi belanja, terutama barang sekunder dan tersier.

Kedua karena adanya pergeseran perilaku belanja, masyarakat lebih suka melakukan pembelian secara daring karena dianggap lebih mudah dan sering kali lebih murah. Itulah mengapa iklan mall atau pusat perbelanjaan lain begitu gencar, meski ada syarat dan ketentuan berlaku. 

Dan ini pula yang dikatakan oleh Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti bahwa  pihaknya tengah bekerja sama dengan berbagai macam asosiasi membahas solusi fenomena rojali dan kawan-kawannya dengan skema  pemberian diskon (cnnindonesia.com, 12-12-2025). 

Ketiga karena fungsi mal  berubah,  tidak lagi hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga menjadi tempat rekreasi, sosialisasi, dan "cuci mata" karena kebutuhan sosial tetap ada. Perilaku ini relatif tidak menguras kantong. 

Islam Ciptakan Opini Tapi Juga Keadilan

Memang tak ada yang salah jika pusat perbelanjaan maupun market place mengadakan promosi besar-besaran karena memang itulah jual beli. Ada promosi, penawaran barang dan pembelian. 

Letak persoalannya adalah pada ketiadaan peran negara menghilangkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin dalam rangka sama-sama memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemudahan berbelanja, diskon, tempat yang nyaman, harga yang wajar, tak ada praktik riba,  produk yang berkualitas serta keamanan transaksi bukan milik orang kaya, yang punya previle dengan uangnya, tapi juga bagi si miskin, kelas menengah ke bawah. 

Seharusnya, negara membangun pusat perbelanjaan bukan hanya berdasarkan kebutuhan kelas tertentu, tapi juga masyarakat luas karena itu bagian dari hak publik. Pengadaan barang yang lancar, produksi barang yang produktif sekaligus berkualitas serta transaksi yang riil harus dijamin negara. 

Dan hanya dalam Sistem Islam kondisi itu bisa dipenuhi. Karena hanya sistem Islam yang menghilangkan pajak atas barang dan pendapatan pribadi seseorang. Jika pajak hilang maka, suasana berbisnis akan nyaman. Kita bisa lihat dari berbagai kerjasama negara-negara dalam hal perdagangaan, adalah dengan menghilangkan pajak masuk, hal ini menjadikan barang masuk tanpa hambatan dan produktifitas bisa terus jalan. Harga barang pun lebih murah. 

Sayangnya, Indonesia belum mencapai tahapan industri yang mandiri. Apalagi bahan baku, SDA kita yang berlimpah bukan lagi milik kita. Akhirnya, bisnis kita hanya berputar pada UMKM dan Koperasi. Sedangkan retail besar gulung tikar karena tidak kuat menghadang arus impor, yang ditandatangani oleh negara sendiri. 

Maka, tidakkah kita sampai pada satu kebutuhan besar da utama, bahwa kita harus mwncabut Kapitalisme dan menggantinya dengan syariat? Agar pemenuhan kebutuhan hidup tidak lagi klasikal bahkan eksklusif. Dan yang pasti lebih berkah dunia akhirat. Sebagaimana firman Allah swt. yang artinya, "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS Al-A'raf Ayat 96). Wallahualam bissawab.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.