Header Ads


Kisah Khalid bin Walid dan Racun Sassaniyah

Ilustrasi peperangan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid


IndonesiaNeo, TELADAN -  Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai simbol keberanian, seorang jenderal yang tegas, cerdas, dan sering dijuluki Saifullah (Pedang Allah). Di antara berbagai kisah tentangnya, ada satu yang membuat banyak orang tercengang. Ia dikatakan pernah meminum racun yang diberikan oleh musuh, tetapi selamat dengan izin Allah.

Dalam beberapa versi yang terkenal, cerita ini seringkali terjadi saat dia berhadapan dengan "orang Persia". Namun, dalam beberapa sumber sejarah yang lebih mendalam, latar belakangnya terletak di wilayah al-Hirah (Irak), yang ketika itu berada di bawah pengaruh kekuasaan Sassaniyah. Diceritakan bahwa lawan yang bertahan di benteng menantang Khalid untuk meminum racun sebagai syarat untuk menyerah. Dengan keberanian, Khalid mengambil racun itu, membaca basmalah dan berdoa, sebelum meminumnya. Ia sempat merasakan lemas, namun kemudian ia sadar dan tidak mengalami kematian. Kisah ini, lengkap dengan detail tentang tempat dan tokoh, juga tertera dalam Tarikh Dimashq (Sejarah Damaskus), seperti yang dicatat oleh para ulama.

Dari sudut pandang Islam, kita bisa memahami cerita ini dengan lebih jelas. Pertama, ini bukan tentang "trik kekebalan" atau adu keberanian. Beberapa ulama menyatakan bahwa jika kisah ini benar, maka itu termasuk karamah—peristiwa luar biasa yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang saleh untuk pertolongan agama-Nya, mengguncang mental musuh, dan memperkuat iman kaum mukmin. Bahkan, Ibn Taymiyyah menganggapnya sebagai karamah yang menunjukkan kebenaran Islam.

Kedua, ada aspek ilmiah dan keagamaan: meskipun kisah ini terkenal, rincian sanadnya masih diperdebatkan. Ibn Katsir menyebut doa yang dibaca Khalid dalam Al-Bidayah wan Nihayah, sementara di Musnad Abu Ya’la hanya tertulis "Bismillah"; para peneliti sanad mencatat bahwa meskipun para perawinya tepercaya, rantai sanadnya terputus (yang mengakibatkan kelemahan dalam riwayat tersebut). Ini menunjukkan bahwa cerita ini seharusnya dianggap sebagai sejarah yang diceritakan oleh ulama, bukan sebagai dasar untuk merumuskan hukum atau menguji tantangan di zaman modern.

Ketiga, pelajaran paling berharga dari kisah ini bukanlah tentang racunnya, melainkan tentang tawakkal dan keyakinan yang benar. Khalid tidak berusaha "mencari perhatian", melainkan ingin menegaskan prinsip: bahwa hidup dan mati berada dalam kekuasaan Allah. Jika Allah menghendaki, racun tidak akan membahayakan. Jika Allah menginginkan, air pun dapat jadi penyebab tenggelam. Di sini terlihat betapa pentingnya tauhid: sebab bisa terlihat nyata, tetapi Allah-lah yang berperan menentukan.

Keempat—yang juga penting—kisah ini tidak bisa dijadikan sebagai justifikasi untuk melakukan hal-hal berbahaya. Dalam fatwa dan penjelasan para ulama, mereka menekankan bahwa kejadian yang “melampaui hukum biasa” tidak boleh dijadikan sebagai kaidah umum. Al-Albani menegaskan bahwa tindakan Khalid adalah bentuk keyakinan luar biasa yang tidak bisa dijadikan patokan bagi orang lain, dan hal-hal yang menyimpang dari kaidah tidak boleh dianggap sebagai kaidah. Maka, membuat “tantangan minum racun” untuk diskusi, konten, atau sebagai pembuktian agama jelas bukanlah jalan yang benar.

Kelima, ada nilai-nilai dakwah yang halus di balik cerita ini. Musuh pada waktu itu meminta “tanda” sebelum menyerah. Islam mengajarkan bahwa hidayah bukanlah transaksi demonstrasi, melainkan sesuatu yang terbuka bagi hati yang tulus. Apabila Allah menampilkan karamah, itu murni merupakan anugerah—bukan sesuatu yang bisa diperoleh sembarangan.

Mengambil inti dari cerita ini, tuntunan Islam yang terkandung sangat relevan untuk masa kini. Ketika rasa takut, tekanan hidup, dan keraguan seringkali "meracuni" pikiran, seorang mukmin diingatkan untuk mendalami tauhid dan tawakkal yang realistis—berusaha semaksimal mungkin, lalu menyerahkan segala hasil kepada Allah. Keberanian sejati bukanlah menelan racun, melainkan menaklukkan ego, menahan hawa nafsu, dan tetap taat meski dalam ujian.

Dan di sinilah warisan Khalid bin Walid, bukan sekadar legenda keberanian, tetapi sebuah pengingat bahwa kekuatan sejati muncul dari hati yang bersandar pada Allah—dengan ilmu, adab, dan iman yang tulus.[]Adm

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.