Sabar, Syukur, & Tawakal a la Imam Hasan al-Bashri
IndonesiaNeo, TIPS - Sabar, syukur, dan tawakal adalah tiga pilar akhlak yang sering disebutkan dalam kehidupan Muslim.
Sabar meneguhkan hati saat ujian, syukur menghargai setiap nikmat Allah, dan tawakal membuat kita pasrah setelah berusaha.
Imam Hasan al-Bashri (w.110 H), ulama zuhud ternama, banyak memberi nasihat tentang menjaga hati dan kesederhanaan hidup.
Ia mengingatkan bahwa dunia sering “mengalihkan hati dan tubuh kita”, sedangkan sikap zuhud (tidak terpaut dunia) justru membawa ketenangan batin.
Ia juga menasehati, “semakin hati sering lupa, makin ia keras; tetapi dzikir kepada Allah dapat melunakkannya seperti tembaga dicairkan api”.
Nasihat-nasihat Hasan al-Bashri ini mengajarkan kita agar selalu introspeksi dan bersandar kepada Allah.
Sabar: Keteguhan dalam Ujian
Sabar adalah kekuatan menahan diri dalam kesulitan. Misalnya, ketika mendapat kabar buruk atau terjebak macet, sabar mengajarkan kita untuk tetap tenang dan tidak putus asa. Hasan al-Bashri mengingatkan betapa singkatnya hidup ini,
“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah kumpulan hari; ketika satu hari berlalu, sebagian darimu juga hilang”.
Kesadaran bahwa waktu kita terbatas ini menumbuhkan rasa sabar – kita memahami bahwa setiap ujian hanyalah sementara.
Untuk berlatih sabar, coba lakukan hal-hal sederhana seperti menarik napas dalam-dalam dan mengucapkan “Alhamdulillah” saat kesal, atau mengingat orang-orang saleh yang tabah dalam ujian.
Dengan begitu, kita menguatkan hati menjalani cobaan kecil maupun besar dengan ikhlas.
Syukur: Menghargai Nikmat Allah
Syukur adalah mengakui dan berterima kasih atas segala karunia Allah, besar maupun kecil.
Hasan al-Bashri pernah berpesan,
“Sesungguhnya Allah memberikan kenikmatan kepada seseorang selama ia bersyukur; bila tidak lagi bersyukur, Dia mengganti kenikmatan itu menjadi azab”.
Artinya, sikap bersyukurlah yang membuat nikmat terus mengalir dan bernilai pahala.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat berlatih bersyukur dengan menghargai hal-hal kecil, mengucap “Alhamdulillah” untuk segelas air, secangkir kopi, atau kesehatan di pagi hari.
Hindari sikap membanding-bandingkan; ingatlah bahwa “barangsiapa sungguh mengenal Tuhannya, ia akan mencintai-Nya; barangsiapa sungguh mengenal dunia, ia akan bisa hidup tanpa itu”.
Artinya, orang yang paham sifat dunia yang sementara akan lebih mudah bersyukur dan tidak terikat.
Tawakal: Pasrah setelah Berusaha
Tawakal berarti berserah diri kepada Allah setelah kita melakukan usaha (ikhtiar).
Ia bukan sikap pasif, melainkan paduan antara berusaha keras dan percaya bahwa hasil di tangan Allah.
Hasan al-Bashri mengajarkan agar dunia dipandang hanya sebagai “jembatan” menuju akhirat.
Artinya, setelah mengarungi dunia dengan langkah benar, kita harus menyerahkan hasilnya kepada-Nya.
Misalnya, kita telah belajar sungguh-sungguh untuk ujian; setelah itu, kita tetap tenang karena yakin Allah tahu sebaik-baiknya usaha kita.
Contoh lainnya, seorang pengusaha tetap berikhtiar mencari rezeki, namun tidak cemas berlebihan karena yakin bahwa Allah telah menyiapkan rezeki terbaiknya.
Dengan memadukan sabar, syukur, dan tawakal, kita membentuk hati yang lembut dan ikhlas. Kita diajak menatap ujian dengan bijak, bersyukur atas karunia sekecil apa pun, dan menyerahkan diri pada ketetapan-Nya.
Semoga kita dapat meneladani doa Hasan al-Bashri,
“Ya Allah, Engkau menyaksikan hati kami yang sering diliputi keraguan… Wahai Pengubah Hati, teguhkanlah hati kami dalam agama-Mu”.
Dengan begitu, perjalanan hidup kita akan semakin diridhai Allah dan penuh ketenangan.[]Adm
Sumber:
https://muslimology.wordpress.com/2017/10/10/70-sayings-of-hasan-al-basri/
https://islamadina.org/2024/10/13/rahasia-hidup-zuhud-imam-hasan-al-bashri/
https://sunnahonline.com/9-quotes/66-al-hasan-al-basri-on-the-heart


Post a Comment