Perlawanan Melalui Tulisan
Oleh: Iwar Abu Laits*)
IndonesiaNeo, OPINI - Dakwah tidak semestinya dipersempit sebagai domain eksklusif para kiai atau mereka yang telah mencapai otoritas keilmuan sebagai ustaz dan alim. Dalam perspektif normatif Islam, setiap mukmin memikul tanggung jawab profetik untuk menjadi da’i—menyeru, mengingatkan, dan membangun kesadaran kolektif umat. Di antara berbagai uslub dakwah, menulis merupakan instrumen strategis, terlebih pada era modern yang ditandai oleh kompleksitas persoalan akibat dominasi pemikiran, orientasi emosional, serta regulasi yang kerap berjarak dari nilai-nilai Islam di berbagai belahan dunia.
Karena itu, meskipun penulis menyadari jarak kapasitasnya dibanding para ulama dan asatiz, dakwah selayaknya tetap menjadi poros orientasi hidup. Menyampaikan satu atau dua gagasan yang telah dipahami dengan baik merupakan kontribusi yang bernilai. Ketidaksempurnaan bukan alasan untuk berdiam diri, apalagi jika yang diperjuangkan adalah kepentingan dakwah. Andaikan kesempurnaan menjadi syarat, niscaya tidak ada yang layak berdakwah selain nabi Muhammad ﷺ.
Realitas menunjukkan bahwa ruang literasi—baik media cetak maupun buku—tidak jarang dipenuhi karya pihak-pihak yang tidak bersimpati terhadap Islam. Akibatnya, tidak sedikit kaum muslim yang terpapar konstruksi pemikiran keliru melalui narasi yang tampak akademik dan persuasif. Penyimpangan ini kerap bersumber dari mereka yang fasik maupun zalim, yang secara sistematis menyebarkan gagasan yang menjauhkan umat dari fondasi akidahnya.
Ironisnya, jika pihak yang berada di luar kebenaran demikian gigih memproduksi dan mendistribusikan gagasannya, mengapa kaum muslimin yang meyakini dirinya berada di atas kebenaran justru kerap abai dalam menyiarkan risalah Islam? Padahal, landasan akidah yang kokoh semestinya menjadi energi spiritual yang melahirkan militansi intelektual—bahkan tanpa pamrih material. Berbeda dengan mereka yang menanggalkan orientasi akhirat demi kepentingan duniawi, seorang mukmin bergerak atas dasar iman dan tanggung jawab transendental.
Secanggih apa pun senjata fisik, daya jangkaunya terbatas pada ruang dan jumlah tertentu. Namun sebuah tulisan—sebagai produk pemikiran—mampu menembus batas geografis dan generasi, memengaruhi ratusan ribu bahkan jutaan benak, menggugah akal, dan membekas di relung kesadaran. Inilah kekuatan epistemik dari pena.
Abdullah Azzam pernah menyatakan bahwa peradaban Islam dibangun oleh dua elemen: hitam tinta para ulama dan merah darah para syuhada. Keduanya bersinergi mengguncang dunia dan meruntuhkan simpul-simpul kezaliman yang menghambat kebangkitan Islam. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perjuangan intelektual melalui tulisan memiliki posisi yang setara strategisnya dengan pengorbanan fisik dalam sejarah peradaban.
Senada dengan itu, Ismail Yusanto pernah menyerukan pentingnya membangun kesadaran melalui kata—baik lisan maupun tulisan—sebagai bagian dari ikhtiar perubahan menuju tatanan yang lebih Islami. Seruan ini relevan untuk direnungkan sebagai refleksi peran setiap individu dalam dinamika umat.
Dengan demikian, menulis bukan sekadar aktivitas literer, melainkan amal yang berorientasi pada kemuliaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Tulisan yang lahir dari niat dakwah menjadi kontribusi nyata berupa gagasan, motivasi, dan pencerahan. Selama ia terus dibaca dan memberi manfaat, ia berpotensi menjadi investasi pahala yang melampaui batas usia penulisnya.
Seluruh anugerah Allah—umur, akal, ide, keahlian, kecerdasan, kedudukan, hingga harta—pada hakikatnya merupakan wasilah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mengalokasikan seluruh potensi tersebut di jalan Allah adalah manifestasi syukur kepada Sang Pemberi rezeki, dengan harapan memperoleh ganjaran terbaik di sisi-Nya.
Sungguh disayangkan apabila seseorang dianugerahi kapasitas intelektual namun tidak mewariskan karya yang bermanfaat bagi generasi setelahnya, atau bahkan menggunakan kepandaiannya untuk menebar kerusakan pemikiran. Kehidupan dunia yang singkat semestinya tidak dihabiskan dalam kesia-siaan, apalagi dalam produksi gagasan yang menyesatkan.
Realitas kontemporer memperlihatkan umat Islam menghadapi persoalan multidimensional yang saling berkaitan—ekonomi, politik, sosial, dan budaya—yang berakar pada pengabaian syariat serta dominasi sistem yang dibangun atas rasionalitas pragmatis, hawa nafsu, dan kepentingan. Dari sini dapat dipahami bahwa problem yang dihadapi bersifat sistemik, sehingga solusi yang ditawarkan pun harus menyentuh akar persoalan.
Dalam konteks ini, umat bukan hanya memerlukan bantuan material, tetapi juga asupan pemikiran yang jernih dan solutif. Sedekah materi tetap penting, namun kontribusi intelektual berupa pencerahan tentang solusi Islam serta dekonstruksi mitos dan ide-ide yang bertentangan dengan ajaran Islam menjadi kebutuhan mendesak.
Ketika media cetak, daring, dan elektronik dipenuhi konten yang dangkal, hiburan yang melalaikan, serta narasumber berparadigma sekuler-liberal, kehadiran kaum mukmin dengan narasi yang mencerahkan menjadi sangat urgen. Tulisan yang argumentatif, bernas, dan berakar pada khazanah Islam dapat menjadi bentuk perlawanan intelektual—sebuah ikhtiar untuk meluruskan pemikiran dan menjaga kejernihan akidah umat.
Dengan demikian, pena bukan sekadar alat ekspresi, melainkan instrumen perubahan. Ia adalah amanah—dan sekaligus peluang—untuk menjadi bagian dari arus transformasi menuju kehidupan yang lebih selaras dengan nilai-nilai Islam.[]
*) Ketua LBH Pelita Umat Korwil Kepton


Masya Allah
BalasHapusAlhamdulillah
BalasHapus🙏
BalasHapus